PENDIDIKAN MASA AGRESI MILITER BELANDA II: TANTANGAN DAN NILAI-NILAI YANG DAPAT DI IMPLEMENTASIKAN DI MASA PANDEMI COVID 19

 

OLEH:

DESTRIANA ASTUTI, S.Pd.

SMA NEGERI 1 PAKEM

 

Latar Belakang

Pada 19 Desember 1948 dilancarkan Agresi Militer II oleh Belanda Agresi dimulai dengan diserbunya lapangan Maguwo di Yogyakarta. Yogyakarta pada saat itu menjadi ibukota Republik Indonesia. Adanya agresi tersebut memperparah wilayah Republik dan membuat keadaan tidak aman. Banyak bidang yang terdampak akibat agresi tersebut. Salah satunya adalah bidang pendidikan. Pada masa tersebut, sekolah-sekolah di liburkan, para pelajar dan guru ikut dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Di liburkannya sekolah-sekolah kini juga dirasakan kembali. Namun berbeda faktor yang menyebabkan. Jika pada tahun 1948-1950 sekolah diliburkan karena adanya Agresi Militer Belanda, pada tahun 2020-2022 sekolah-sekolah diliburkan karena adanya pandemi Covid 19 di Indonesia. Lumpuhnya aktivitas pendidikan tentu membawa tantangan tersendiri bagi Indonesia. Essai ini mengangkat tentang Keadaan pendidikan di masa Agresi Militer Belanda II yang memiliki tantangan yang sama dengan kondisi pendidikan saat ini. Serta mengambil nilai-nilai yang dapat diimplementasikan bagi pendidikan di masa pandemi covid 19.

 

Pembahasan

  1. Kondisi Pendidikan di Masa Agresi Militer Belanda II

Tahun 1948 membawa sejarah dan perubahan besar dalam perjuangan Republik Indonesia. sejak kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, ternyata rakyat Indonesia masih harus mengalami perjuangan yang begitu besar untuk mempertahankan kemerdekaan. Belanda masih merasa berhak atas Indonesia dan tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia (TIM, 1983: 273). Oleh sebab itu terjadilah beberapa upaya untuk mempertahankan kemerdekaan.

Demi mempertahankan kemerdekaan, pemerintah Indonesia melakukan dua cara yaitu dengan diplomasi dan perjuangan fisik. Menurut Wuryandari, dkk (2008: 73) Upaya diplomasi Indonesia melalui penyelesaian sengketa di meja perundingan dengan Belanda seperti perjanjian Linggarjati, Renville dan Roem Royen. Sedangkan perjuangan fisik didasari oleh keyakinan bahwa kemerdekaan penuh Indonesia hanya dapat dicapai melalui konfrontasi tanpa mengenal kompromi dengan Belanda. Contohnya terjadi pertempuran rakyat dengan tentara Belanda di berbagai daerah khususnya daerah Yogyakarta.

Terjadinya pertempuran tersebut, membuat keadaan semakin genting. Sehingga mengakibatkan keadaan Indonesia tidak stabil di berbagai bidang. Bidang pendidikan juga tidak luput terdampak akibat agresi militer ini. Perjuangan melawan Belanda menarik ribuan pelajar bergabung dengan tentara reguler atau satuan-satuan gerilya. Mereka terpaksa sering meninggalkan sekolah selama berbulan-bulan (Soemardjan, 2009: 130).

Tidak hanya pelajar yang ikut berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan namun guru-guru juga banyak yang keluar meninggalkan lapangan pendidikan untuk memasuki dinas ketentaraan pula. Hal ini dilakukan agar Indonesia tidak kembali lagi di bawah penjajahan Belanda.

Adanya Agresi Militer Belanda II membawa perubahan di lapangan pendidikan dan pengajaran yang tidak kecil. Didudukinya Yogyakarta maka pemerintah memutuskan sekolah-sekolah agar ditutup (Sutjiatiningsih dan Kutoyo, 1981: 133). Sekolah-sekolah ditutup demi keamanan. Selain itu, para pelajar, guru dan masyarakat pada umumnya lebih mementingkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Bergabungnya para pelajar dalam kompi tentara pelajar tentu memikul tantangan yang besar. Musuh yang mereka hadapi adalah Belanda yang memiliki tentara yang lebih banyak dan senjata yang lebih modern. Namun keberanian, tekad, dan semangat untuk mempertahankan kemerdekaan jauh lebih kuat dan mendorong para pelajar untuk berjuang mampu mengalahkan ketakutan dan keraguan mereka menghadapi tentara Belanda.

 

  1. Kondisi Pendidikan di Masa Pandemi Covid 19

Di awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan merebaknya virus baru yaitu coronavirus jenis baru (SARs-Co V-2) dan penyakitnya disebut dengan Coronavirus Disease (Covid 19). Awal mula virus ini berawal dari Wuhan, Tiongkok.

Covid 19 telah dinyatakan oleh WHO sebagai pandemic dan Pemerintah Indonesia berdasarkan keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah menyatakan Covid 19 sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang wajib dilakukan upaya penanggulangaaan (Syauqi, 2020: 2).

Adanya situasi tersebut, sebagai penanggulangan terhadap paparan covid 19 beberapa sektor ditutup dan melaksanakan kegiatan secara daring. Salah satu yang terdampak adalah sektor pendidikan. Sekolah ditutup dan dilakukan pembelajaran jarak jauh.

Guru dan peserta didik tidak melakukan pembelajaran secara tatap muka. Pembelajaran dilakukan secara daring. Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan beberapa aplikasi seperti zoom, googlemeeting, googleclassroom, jbclass, dan lain-lain. Semua dilakukan agar proses belajar mengajar tetap berjalan.

  1. Tantangan dan Implementasi Nilai-nilai Pendidikan Masa Agresi Militer Belanda II pada Masa Pandemi Covid 19.

Masa agresi militer Belanda II yang terjadi pada tahun 1948-1949 membawa dampak tersendiri di bidang pendidikan. Para pelajar dan guru ikut bertempur melawan Belanda dan meninggalkan sekolah. Sehingga kegiatan pembelajaran disekolah harus ditutup. Mereka fokus pada upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Musuh yang mereka hadapi adalah musuh yang nyata. Mereka harus menghadapi dengan senjata dan bertempur. Namun karena nasionalisme mereka yang tinggi maka mereka memiliki tekad yang kuat dan tak kenal lelah. Satu yang penting bagi mereka adalah bagaimana mereka bisa menyelamatkan bangsa dan negara ini untuk tetap merdeka.

Sedangkan tantangan yang dihadapi para pelajar dan guru pada masa pandemi covid 19 ini juga sama. Sekolah ditutup dan mereka tidak dapat berjalan secara langsung. Namun musuh yang mereka hadapi berbeda. Musuh saat ini adalah sebuah virus yang tidak terlihat. Sehingga sulit bagi generasi saat ini.

Sekolah ditutup namun pembelajaran harus tetap berjalan dan dilakukan secara daring. Butuh tekad yang kuat dan tak kenal lelah untuk mengikuti pembelajaran. Karena jika mereka tidak memiliki sikap tersebut maka mereka akan terbawa dengan rasa malas. Padahal mereka merupakan generasi penerus bangsa. Sehingga nilai-nilai yang dimiliki para pelajar pada masa Agresi Militer ini bisa di implementasikan bagi para pelajar pada masa pandemi covid 19.

 

DAFTAR REFERENSI

Sumber Buku:

Syauqi, Ahmad. Jalan Panjang Covid 19.

Soemardjan, Selo. 2009. Perubahan Sosial di Yogyakarta. Jakarta: Komunitas Bambu.

Sutjiatiningsih, Sri dan Sutrisno Kutoyo. 1981. Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: Dep P dan K Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

TIM. 1983. Replika Sejarah Perjuangan Rakyat Yogyakarta. Yogyakarta: Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta.

Wuryandari, dkk. 2008. Politik Luar Negeri Indonesia di Tengah Pusaran Politik Domestik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sumber Jurnal:

Syauqi, Ahmad. Jalan Panjang Covid 19. JKUBS Vol 1 No 1. Diakses pada https://e-journal.iainptk.ac.id hari Jumat, 9 Desember 2022 pukul 20.00.